Kajian Perdana Ustaz Said bin Ali Barahmah di STKIP Al Hikmah Surabaya, Angkat Tema Tazkiyatun Nafs

 

Kajian keislaman bersama Ustaz Said di STKIP Al Hikmah Surabaya untuk pertama kalinya dilaksanakan secara luring setelah sebelumnya lebih sering diselenggarakan secara daring.

Surabaya, 7 September 2026 — Suasana berbeda terasa dalam kajian keislaman di lingkungan STKIP Al Hikmah Surabaya. Setelah selama ini lebih sering dilaksanakan secara daring, kajian bersama Ustaz Said bin Ali Barahmah untuk pertama kalinya diselenggarakan secara luring (offline) di kampus.

Kajian tersebut diikuti oleh para pimpinan STKIP Al Hikmah Surabaya, Wakil Ketua (Waket), serta seluruh dosen dan tenaga kependidikan. Kehadiran sivitas akademika secara langsung menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan sekaligus menghadirkan ruang refleksi spiritual di tengah aktivitas akademik dan kelembagaan.

Mengangkat tema “Tazkiyatun Nafs”, Ustaz Said mengajak peserta untuk kembali memahami hakikat manusia serta pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan jasad dan ruh.

Dalam kajiannya, Ustaz Said menjelaskan bahwa manusia diciptakan Allah Swt. dari tanah dan kemudian ditiupkan ruh ke dalam dirinya. Karena itu, manusia memiliki dua sisi yang sama-sama membutuhkan perhatian dan perawatan, yakni jasad dan ruh.

kajian keislaman bersama Ustaz Said di STKIP Al Hikmah Surabaya untuk pertama kalinya dilaksanakan secara luring setelah sebelumnya lebih sering diselenggarakan secara daring.  Mengangkat tema “Tazkiyatun Nafs”, kajian mengajak sivitas akademika untuk memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara jasad dan ruh serta senantiasa merawat hati melalui zikir, membaca Al-Qur’an, dan amal kebaikan.  Kegiatan dihadiri oleh para pimpinan, Wakil Ketua, serta seluruh dosen dan tenaga kependidikan. Dalam kegiatan ini, Ustaz Yiyin Isgandi turut berperan sebagai penerjemah.  Rawat jasad, sucikan ruh, dan pupuk hati agar terus tumbuh.

Jasad perlu dijaga melalui kebersihan, mandi, berwudu, serta mengonsumsi makanan dan minuman yang baik. Sementara itu, ruh juga membutuhkan asupan agar tetap sehat dan terjaga. Salah satu cara untuk merawat dan menyucikan ruh adalah dengan memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an.

Ustaz Said mengibaratkan ruh dan hati manusia seperti besi yang dapat berkarat apabila tidak dirawat. Begitu pula hati yang dapat menjadi kotor apabila tidak senantiasa dibersihkan melalui ibadah dan amal kebaikan.

Peserta juga diajak untuk jujur terhadap kondisi hati masing-masing. Menurutnya, perhatian terhadap kebutuhan jiwa tidak boleh kalah dengan perhatian terhadap kebutuhan fisik.

Hal tersebut digambarkan melalui perumpamaan dalam mendidik anak. Seorang anak tidak cukup hanya diberi makan dan minum, tetapi juga membutuhkan pendidikan, perhatian, kasih sayang, serta pemenuhan kebutuhan jiwanya. Demikian pula hati manusia yang membutuhkan perhatian agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

“Hati seperti tanaman. Ia membutuhkan pupuk dan air agar dapat tumbuh,” menjadi salah satu pesan yang menguatkan pentingnya merawat hati secara berkelanjutan.kajian keislaman bersama Ustaz Said di STKIP Al Hikmah Surabaya untuk pertama kalinya dilaksanakan secara luring setelah sebelumnya lebih sering diselenggarakan secara daring.  Mengangkat tema “Tazkiyatun Nafs”, kajian mengajak sivitas akademika untuk memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara jasad dan ruh serta senantiasa merawat hati melalui zikir, membaca Al-Qur’an, dan amal kebaikan.  Kegiatan dihadiri oleh para pimpinan, Wakil Ketua, serta seluruh dosen dan tenaga kependidikan. Dalam kegiatan ini, Ustaz Yiyin Isgandi turut berperan sebagai penerjemah.  Rawat jasad, sucikan ruh, dan pupuk hati agar terus tumbuh.

Dalam kajian tersebut, Ustaz Yiyin Isgandi turut mendampingi sebagai penerjemah, sehingga materi yang disampaikan Ustaz Said dapat dipahami dengan baik oleh seluruh peserta.

Melalui pelaksanaan kajian secara luring ini, STKIP Al Hikmah Surabaya berharap kegiatan pembinaan spiritual dapat terus menjadi bagian dari kehidupan sivitas akademika. Tidak hanya membangun kualitas intelektual dan profesional, tetapi juga menjaga kebersihan hati serta keseimbangan antara jasad dan ruh.

Kajian perdana secara offline ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat budaya belajar, refleksi, dan pembinaan diri di lingkungan STKIP Al Hikmah Surabaya